Search

hanifahhasnur

To find something valuable you need to strunggle enough

The Best Teacher I’ve Ever Had

Beliau adalah seorang Profesor, tapi tidak pernah dipanggil Prof oleh mahahasiswanya. Sejauh yang saya tau, memang sih di kampus Jantong Hate Rakyat Aceh, jarang seorang Profesor dipanggil dengan panggilan Prof.

Baik lah, lanjut ke cerita Prof yang sangat saya banggakan ini, Beliau banyak menginspirasikan saya, bahkan di kehidupan saya sekarang ini.

Singkat cerita, saya hanya bertemu Prof yang bijak ini beberapa kali di kelas yang saya ambil. Ehm, saya tidak tau pasti apakah value yang saya dapat dari beliau ketika mendengarkan perkuliah beliau ini, teman-teman sekelas yang lain juga  menganggap ini sangat berguna atau tidak.

Jadi, ini murni true story saya pribadi. Saat itu, tahun 2009 kalau saya tidak salah ingat, saya melihat ada nama beliau di mata kuliah yang wajib harus diambil di semester itu. Saya tertegun sejenak, saya yakin ini orang hebat. Kemudian, saya memutuskan mengambil kelas beliau.

Taukah, teman-teman? Lagi-lagi kalau saya tidak salah ingat, pertemuan face to face dengan beliau di kelas hanya sekitar 6-7 kali, sisanya lagi diajarkan oleh dosen penggantinya. Tapi apa yang saya dapat di 6-7 kali pertemuan di kelas itu? Luar biasa, pengaruhnya luar biasa bagi saya, cukup mengubah jalan pikiran dan arah tujuan hidup saya.

Beberapa nilai yang beliau sering sampaikan di kelas seperti tentang kesibukan beliau. Bagaimana beliau menganggap mengajar sebagai sebuah hobi, bukan satu-satunya pekerjaan yang beliau jalani. Pernah suatu hari, beliau membawa koran “The Jakarta Post” ke kelas ketika mengajar, sambil menunjuk-nunjuk beliau berujar: “Ini ni, yang kemarin mengeluh ke saya, katanya kok saya cuma memperjuangkan Aceh, padahal kan kalau bicara beasiswa untuk kuliah ke luar kenapa lingkupnya gak nasional, maksudnya di sini Indonesia.” Kemudian, beliau melanjutkan omongannya: “Gak mungkin gak berhasil, kalau memang benar-benar bekerja, saya beanr-benar kerja untuk memperjuangkannya, lah, mereka bilang kenapa malah saya tidak peduli dengan anak Indonesia dan kenapa hanya fokus untuk Aceh.”

Tidak tau mengapa beberapa patah kata yang beliau ucapkan itu, begitu membekas di ingatan saya. Di sini, pertama kalinya saya mengerti dan mulai berpikir bahwa ada sesuatu antara Aceh dan Indonesia, tapi yang lebih penting lagi di sini saya mulai tau isu-isu bagaimana suatu kebijakan dapat mepengaruhi kehidupan orang banyak.

Cerita lainnya, ketika beliau masuk ke kelas, beliau juga sering bercerita tentang bagaimana beliau hidup di masa kecilnya dengan gizi yang ala kadar bahkan bisa dibilang sangat-sangat kurang. Ini salah satu bukti anak Indonesia yang menjalani hidupnya dalam kemiskinan, kemudian tumbuh dan bekerja keras hingga menjadi seorang Profesor.

Cerita lain yang beliau sering ceritakan terkait lobbying, advocacy beliau  dengan orang di luar Aceh, sehingga bisa berinvestasi di Aceh. Di sini, saya juga mempelajari value lainnya bagaimana kecerdasan seseorang begitu impactful bahkan ketika negeri yang diperjuangkannya tidak begitu banyak tau tentang hal ini. Tapi sungguh si Bapak telah mengajarkan nilai-nilai, yang saya ragu apakah dosen atau pengajar lainnya menganggap ini penting atau tidak.

Oh ya, sebenarnya beliau mengajari terkait skill yang medukung si mahasiswa calon-calon guru untuk diajarkan ke muridnya lagi nanti. Tapi sungguh saya sangat yakin, skill itu memang perlu, mata kuliah yang diajarkan juga tanggung jawabnya untuk mengajarkan ilmu yang harus disampaiakan Tapi di sisi lain, ada nilai-nilai yang kadang begitu membekas di pikiran murid, ya kurang lebih murid-murid seperti saya.

Satu lagi yang saya pelajari dari beliau, yang saya yakin semestinya semua anak negeri ini memiliki itu. Beliau sangat cerdas, beliau one of the best quality person in Aceh, tapi beliau juga sadar satu hal, kekuatan politik memang maha luar biasa, kadang bahkan tidak bisa dinalarkan maupun di hati nuranikan. Saya ingat betul beliau juga menyampaikan nilai-nilai terkait istilah “kontribusi”. Bilapun kalian tidak di sini lagi, bukan berarti kalian tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali memang negeri ini sudah cukup makmur. Banyak orang kita yang pintar di luar sana, tapi hanya sedikit yang peduli dan tertanam di alam bawah sadarnya bahwa dia bertanggung jawab terhadap negerinya.

Dan kata-kata beliau tersebut, saya pikir sangat konsisten dengan apa yang beliau lakukan saat ini. Mungkin sosok beliau, tidak begitu sering muncul lagi. Tapi saya tau pasti, impactful yang beliau sering dengungkan itu masih ada di sini di negeri ini, lihatlah sepanjang jalan lamprit, seutui, Darussalam dan bahkan lebih banyak lagi yang saya tidak tau, ada kontribusi beliau di situ, yah! Saya bisa pastikan itu.

Hanifah Hasnur, pernah mengenyam pendidikan di Program Studi Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Syiah Kuala tahaun 2008-2012

 

Advertisements

Essay for YSEALI Generation

Why are you applying to the YSEALI Generation: Youth Unite Against Drugs workshop? In what ways do you think your participation will help you advance your goals?

According to country manager of the United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) in Indonesia, Indonesia is a large young population country and a correspondingly large market for drugs (Deutsche Welle, 2014). Moreover, the Indonesian government statistics launched the data that drug abuse kills almost 40 people in Indonesia every day, and the number of drug addicts reached about 5.8 million people in 2015. Indonesia’s National Narcotics Board (BNN) also mentions that the big number of drug addicts is cannabis users, there were an estimated 2.8 million. It means that half of Indonesian drug addicts consume drugs, commonly known as marijuana, with the lowest THC (delta-9-tetrahydrocannabinol) level. This is related to the fact that the big number of people using drugs is teenagers who prefer to consume cannabis while they are smoking. I myself found out this fact, when I worked as volunteer to approach teenager who use drugs in their daily life. They can mention many other names of marijuana who common people do not recognize them. I was shocked to find out this fact that even elementary school students in my province, Aceh, are familiar with the activity of using drugs with many ways. Indonesia’s growing problem with young people drug users, but so far it doesn’t seem to be doing much good. Therefore, it is urgent to tackle this drug use problem from the grass root level by concerning to the young people marijuana user to not rise becoming the next level of drug users.

In other hand, I am interested to do research related to this fact in order to fill the gap in research on young people drug user in Indonesia. It is hoped that this research could be the strong evidence: 1) to prove how is emergency Indonesian condition, 2) to study appropriate theory to implement in reducing the number of drug user, 3) and to support drug abuse advocacy movement.

In conclusion, both of my goals to approach the young people drug user and to do research regarding to it can be achieve by applying and joining to the YSEALI Generation workshop. This great workshop shows me the way to be involved deeply in this issue in order give significant impact for better policy impact and community health status.

How do you see the drug use problem affecting your community and what role do you see for yourself in addressing it? How do you hope the YSEALI Generation: Youth Unite Against Drugs workshop will equip you to address this problem?

At the grass root level, doing approach with the youth as the biggest number who uses drugs is important. In my previous life, I worked as volunteer at Aceh Youth Family (Ayomi), a non-profit organization, which focused to promote adolescent health by imparting health information about substance abuse for the first and secondary high school students in Aceh province, Indonesia. At that moment, I saw how teenager got closed with drugs such as marijuana, which was easily gotten and consumed, because of their peers. Therefore, potential young people as peer educator are needed here to take part in imparting the true information about drugs. Even though, many teenagers can gain the knowledge from online media now, but only some of them take it as a warning or an urgent thing. Finally, I think that the YSEALI Generation workshop is one of the greater event for the youth across ASEAN countries, who cares about drug use problem, to discuss deeply about this and then can take more significant action to solve this problem.

By being participant of the YSEALI Generation: Youth Unite Against Drugs workshop, I have an opportunity to see this problem with perspectives from other youth leaders from Southeast Asian countries. It’s hoped that the discussion result from workshop also can bring a meaningful change in the effort of eradication of drug use problem in Indonesia.

What do you hope to learn from the other participants from the other countries? What are you hoping to share about yourself, your community and your work?

From other selected participants, I can learn how their countries raise and solve this issue. The way of how they: 1) approach the young people at the grass root level, 2) approach the policy maker to tackle this issue by doing research related to this, and 3) how to make a lot of writing to buy public awareness to care about the current drug-related issues.

Indonesia, as one of countries with the big number of young people use drugs, needs to collaborate with the neighborhood countries to tackle this problem. At the international level, an Indonesian young person representative can bring the Breakthrough for tackling this problem. YSEALI Generation: Youth Unite Against Drugs workshop, give me an opportunity to enter this big network to achieve my goal. I, previously worked at a non-profit organization focuses on drug abuse prevention, had much experience in the field related to young people who use drugs. I believe, this experience can give important role in discussing the issue. And now, as a health researcher, I am also interested to raise this issue in providing evidence for policy decision-making in overcoming the drug use problems.

 

Biography Hanifah

Hanifah Hasnur was born in Aceh, Indonesia on July 22nd, 1989. After graduated from her elementary and secondary schools, she continued her bachelor degrees in English teacher training and education studies as well as public health studies in two different universities, namely Universitas Serambi Mekkah and Universitas Syiah Kuala, Aceh, started from 2007 and graduated in 2012.

After 5 year-tsunami disaster attacked Aceh, she got involved in a Non-Government Organization funded by Nossal Institute for Global Health, The University of Melbourne. She has responsibility to promote health for adolescent in Banda Aceh especially in preventing drug abuse and HIV/AIDS.

With her status as  a master student, she actively joins with Indonesian Society Finance Planning Program as volunteer (http://ppkmindonesia.com). She is so proud to be part of this non-profit organization, because she has an opportunity to directly approach low-middle income household to teach about financial literacy.

And then, after graduated of her master degree in 2015, Hanifah works as a professional worker in Centre for Health Economics and Policy Studies (CHEPS), Universitas Indonesia. As a research assistant, Hanifah, with other researchers, is actively constructing any researches related to Indonesian National Health Insurance (JKN), health finance and costing of catastrophic diseases covered by JKN in Indonesia. As work in CHEPS, Hanifah also works as professor assistant in School of Public Health, Universitas Indonesia.

Because of her concern in public health policy and economics, Hanifah has a dream to pursue her PhD in health economics in US. Hopefully it will come true soon. She also intends to get back to her hometown someday, to apply her knowledge and experience by being involved in constructing health policy at province level and make Aceh as a good model for public health policy. She is also interested in writing articles to criticise local policy and deliver concepts of health economics and policy  for local context (http://aceh.tribunnews.com/2014/06/05/pentingnya-it-dalam-pelayanan-kesehatan, http://www.jambiekspresnews.com/berita-11549-rokok-sakit-dan-kemiskinan.html, http://aceh.tribunnews.com/2016/02/29/tepatkah-kita-mengecam-kontes-miss-indonesia, etc).

Ruang kosong yang kau biarkan

Aku sengaja mengosongkan sedikit ruang di hatiku

Begitu jawabmu, ketika kutanyai mengapa masih saja kau sendiri

Kemudian seperti biasa kau pun mulai menjelaskan nilai-nilai yang kau pegang

Kau hanya ingin membiarkan ruang itu tetap kosong

katamu untukmu merenung, untuk mu mendekatkan diri dengan  Tuhan Mu

Kau hanya tak ingin, dengan membiarkan ruang itu terisi

membuatmu kehilangan dirimu sendiri

karena hakmu mulai harus kau toleransikan

Kebebasanmu mulai harus kau bagi dan sedikit kau ikat

Kau tak sanggup menanggung konsekuensi sebesar itu katamu

K au  juga bilang, kau tak ingin badai besar malah datang

ketika kau menghidari dari angin kencang

Kau tak ingin walaupun pasti ada kebahagian lain yang bisa kau dapatkan

Tapi kau bilang kau tetap tak ingin

Dan terus kau menguraikan nilai-nilai itu

Walau kadang aku tidak memahami itu.

 

 

Lelaki Pemalu Itu

Entahlah apa wajar ini di sebut cinta

Aku tidak pernah melihat raut wajah

Seperti raut malu yang ada di wajahmu

Ah, mungkin aku yang berlebihan

Tapi sungguh ada sesuatu yang beda denganmu

Yang membuatku mencoba mengingat kembali tentangmu

Sungguh tak kubayangkan, semudah itukah aku jatuh cinta

Bahkan selain raut malu itu

aku tidak melihat tanda-tanda cinta yang lain darimu

Bagaima mungkin aku memikirkanmu sebegini dalam

Aku menyerah untuk rasa ini

Berharap ada keajaiban yang datang menghampiri

Tuhan, untuk kali ini aku berharap

Semoga cintaku berbalas.

Bukan ketampanan wajah

atau harta yang melimpah yang kuimpikan

Tapi sungguh hati yang tergerak untuk berbuat

Pikiran yang diluangkan untuk berpikir

tangan yang tergerak untuk berbuat untuk orang lain

Dan kutemui itu semua di dirinya

Dan adakah hati yang lebih bening dari hatinya?

Semoga hatinya dan hati ku bisa saling menemani

Dan tergerak sama-sama

Untuk berbuat semampu tangan menggapai

Semampu hati berikhtiar dan

Sekuat pikiran untuk negeri ini, negeri kita..

**‘Ku persembahkan untuk “lelaki pemalu” yang kutemui di Mall Cilandak Town Square  di tahun 2014. 2 tahun berlalu, dan kamu masih membekas di ingatanku. ”

Biografi Hanifah Hasnur untuk Profil PPKM Indonesia

ss
Hanifah Hasnur

Hanifah Hasnur lahir di Aceh pada tanggal 22 Juli 1989. Setelah lulus dari sekolah dasar dan menengah, dia melanjutkan pendidikan sarjananya di Fakultas Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di dua universitas yang berbeda yaitu Universitas Serambi Mekkah dan  Universitas Syiah Kuala, Aceh, tahun 2007 dan lulus di tahun 2012.

Pasca musibah tsunami Aceh, di tahun 2010, Hanifah bekerja di salah satu NGO di Aceh yang didanai oleh Nossal Institute for Global Health, The University of Melbourne. Ruang lingkup pekerjaannya berkaitan dengan upaya promosi kesehatan bagi remaja Aceh khususnya terkait sosialisasi terkait  HIV/AIDS dan bahaya penyalahgunaan Narkoba.

Setelah menamatkan Pendidikan S1-nya, tahun 2013 Hanifah melanjutkan pendidikan pascasarjananya di Universitas Indonesia pengkhususan bidang Administrasi dan Kebijakan Kesehatan. Di tahun yang sama pula, sembari menjalani rutinitasnya sebagai mahasiswa pascasarjana, dia aktif bergabung dengan PPKM Indonesia sebagai salah satu intern Batch pertama. Suatu kebanggaan baginya, bisa bergabung dengan PPKM Indonesia dan mengajarkan materi modul-modul PPKM untuk seluruh masyarakat Indonesia. Berkat bergabung dengan PPKM lah akhirnya, Hanifah memiliki kesempatan untuk bisa ikut aktif dalam program-program PPKM antara lain Program financial literacy PPKM di Jogjakarta, Bandung dan Jakarta.

Setelah menamatkan pendidikan pascasarajanya tahun 2013, kemudian Hanifah bekerja di salah satu Pusat Kajian Ekonomi Kebijakan Kesehatan di Universtas Indonesia. Sebagai seorang research assistant di Pusat Kajian tersebut, hanifah dengan peneliti lainnya, aktif melakukan banyak kajian terkait tentang Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pembiayaaan kesehatan serta costing untuk penyakit-penyakit katastropik di Indonesia.

Hanifah memiliki impian besar untuk bisa melanjutkan doctoral degree-nya di bidang ekonomi kesehatan. Dia juga bermimpi agar suatu hari nanti bisa balik ke kampung halamannya, Aceh, untuk mengaplikasikan ilmu dan pengalaman yang telah didapatnya dengan terlibat aktif dalam pembuatan kebijakan-kebijakan kesehatan di Aceh nantinya.

Tetaplah Menengadah Ke Atas, Masa depanmu ada di atas sana.


Ya Rabb, sungguh aku harus kembali menegakkan kepala. Menengadah ke atas dan melihat masa depanku di atas sana. Sungguh aku yakin aku adalah orang terpilih, untuk menjalani kehidupanku yang sekarang, aku bahagia ya Allah, dan inilah kebahangiaanku, sungguh.

Tidak ada lagi kata, “apa aku lagi di path yang salah?” atau pertanyaan “haruskah aku berbalik arah dan kembali ke tempatku semula berdiri?”. Karena jawabannya hanya satu: “TIDAK“.

Come on Ifah.. kamu sudah menemukan path untuk hidup dan tujuanmu, ingatlah dengan pernyataan Pak Rhenald Kasali di twitter-nya: “Setiap langkah yang terasa berat… apa lagi kalau sampai ngos-ngosan, itu pertanda kalian sedang naik menuju ke atas.”

Kamu ifah bukan lah orang yang mudah anteng dengan segala kenyamanan, tapi malah sebaliknya kamu akan lebih tenang dan dapat menikmati hidup kalau sedang dalam kondisi meraih sesuatu.

Tetaplah menengadah ke atas, jangan menyerah, tetaplah jadi dirimu yang penuh semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Apabila terkadang, terjadi keadaan seperti kemaren di mana rasa-rasanya, kok yang terlihat oleh teman-teman terdekatmu malah hal negatif darimu, maka sikapmu untuk mengabaikan mereka sudah tepat sekali.

Duniamu sudah berbeda dengan mereka, sebut saja ini gap. Meskipun ini layaknya gap, tapi sebagai seorang wanita dewasa sudah selayaknya dapat menanggapi segalah sesuatu dengan bijak. Bila pun, dalam beberapa pandangan berbeda, bukan berarti orang-orang tersebut tidak bisa lagi menjadi teman, tempatkan mereka tetap sebagai bagian dari hidupmu, hanya saja posisi nya mungkin sudah harus sedikit bergeser dari posisi prioritasmu sebelumnya.

Rakyat Aceh Mengecam, Sudah Tepatkah?

Saya bisa mengerti kecaman segenap rakyat Aceh terhadap kehadiran Flavia Celly Jatmiko sebagai perwakilan Aceh di ajang bergengsi Miss Indonesia. Kecaman ini datang tidak lain, karena “pride” nya orang Aceh di senggol di sini.

Lalu, kemarahan itu menjadi semakin membludak, ketika diketahui bahwa sang lady perwakilan Aceh ini memang tidak ada sangkut pautnya dengan Aceh sama sekali karena memang tidak pernah lahir atau besar di Aceh.

Kemarahan ini kemudian berwujud demo, kecaman bahkan sampai tulisan-tulisan yang meminta pemerintah Aceh baik yang di Aceh maupun di pusat untuk bisa mengambil tindakan tegas atas kejadian ini.

Apa sebenarnya alasan kecaman ini

Pastinya, untuk sebuah aksi kecaman yang dilakukan, tidak lain tujuannya di sini adalah berharap adanya respon dari pihak yang dikecam dan harapan lainnya tidak terjadi lagi hal serupa di lain waktu.

Kalau memang benar seperti ini. Maka, PR selanjutnya adalah rakyat Aceh harus benar-benar mempunyai alasan yang kuat terhadap penolakan dan kecamannya atas kejadian ini. Alasannya, tidak semua orang khususnya yang di luar Aceh mengerti dengan cara pikir kita orang Aceh.

Alasan-alasan di sebalik kecaman tersebut harus dikuatkan, jangan sampai kecaman yang dilakukan tidak memiliki pondasi alasan yang kuat. Pertama, kalau memang alasannya karena syariat, berarti di lain waktu boleh siapapun membawa nama Aceh ke ajang Miss Indonesia selama dia berprilaku syariah (memakai jilbab). Kedua, karena sang lady bukan berasal dari Aceh. Ini artinya boleh saja siapapun mewakili Aceh yang penting dia benar-benar asli dari Aceh.

Kalau memang yang kedua menjadi alasan kecaman ini, saya rasa tidak fair kalau kemudian di dalam kompetisi lainnya, sperti pertandingan sepak bola yang kadang tidak semua atlit berasal dari Aceh, tapi mereka membawa nama Aceh ke ajang pertandingan nasional. Lalu, bila kemudian dia menang, maka dipamerkan bahwa itu adalah kemenangan rakyat Aceh. Sangat disayangkan saja, kalau kemudian kita dianggap plin plan.

Di lain sisi, sebagai bagian dari Indonesia, tentu partisipasi Aceh sangat diharapkan untuk memenuhi kelengkapan jumlah finalis berdasarkan jumlah provinsi di Indonesia. Oleh karena itu, saya pikir, tentu hal ini dilihat sebagai peluang bagus oleh siapapun yang ingin masuk sebagai finalis agar bisa lolos sebagai salah satu dari 34 finalis yang mewakili setiap provinsi di Indonesia.

Ya, dalam sebuah kompetisi, setiap partisipan menginginkan menang dan untuk menang mereka akan mencari setiap peluang yang ada. Sama saja seperti peluang untuk lulus beasiswa misalnya, tidak sedikit orang di luar Aceh, yang kemudian mengusulkan KTP Aceh, baik untuk beasiswa yang hanya diberikan untuk orang ber-KTP Aceh, atau untuk beasiswa dengan kriteria Aceh sebagai prioritas. Kemudian, apa hal ini dimaafkan?

Tentu fairness atau keadilan harus ditegakkan bersama-sama, jangan sampai sikap reaktif kita ini hanya akan mengundang gelak tawa atau bahkan dianggap angin lalu. Kalau memang syariat Islam adalah alasan kuat di sebalik kecaman ini, maka kemudian kita sudah seharusnya bersikap konsisten.

Syariah Sebagai Kebanggaan

Sebagai orang yang lahir dan besar di Aceh, saya mengerti dari dulu orang Aceh, kalau udah menyangkut urusan agama, maka “parang item bot” istilah lazimnya, senggol bacok. Kalau sudah mencoreng agama, orang Aceh tidak segan-segan untuk mengajak perang. Istiah lainnya, orang Aceh akan bicara dengan lantang: ”jangan jatuhkan martabat kami” sebagi negeri bersyariah.

 

Namun, bila kita begitu gigih memperjuangkan hal yang berhubungan dengan segala sesuatu yang dapat mencoreng agama. Maka, sudah kita semestinya juga harus cukup tegas, dalam menyelesaikan masalah ini. Butuh sikap tegas, bahkan jika perlu bila memang ajang Miss Indonesia ini sama sekali tidak sejalan dengan syariah, jadi dari awal sudah seharusnya ada sikap tegas bahwa tidak akan pernah ada perwakilan dari Aceh untuk Miss Indonesia, sehingga bila kemudian hari muncul nama Aceh, pemerintah Aceh bisa menuntut.

 

Tulisan ini dimuat di Serambi Indonesia tanggal 29 Februari 2016. Salah satu kritikan yang masuk lewat email saya karena tulisan ini, sebagai berikut:

SC20160229-110822

 

Dari segala bentuk kritikan yang dilayangkan itu, berikut jawaban saya:

1. Selama di luar Aceh, sejak sering bertukar pendapat dengan orang di luar Aceh, saya sadar satu hal, dalam beberapa hal, kita sering sekali berbeda dengan provinsi lain, harus bangga? iya pasti saya bangga kalau ini positif tapi bagaimana kalau ini negatif?

2. Tujuan kita sama, Islam adalah agama dan darah kita. Tapi TUJUAN UTAMA saya di sini, ingin agar segala bentuk penolakan kita tidak berujung ke sia-sia an. Lihat saja, hampir setiap tahun kita selalu saja menhadapi permasalahan seperti ini, bahkan rasa-rasa nya pihak luar melihat teriakan ureung Aceh hanya seperti angin lalu. Itu yang disayangkan.

3. Kita perlu bermain cukup cerdas di sini. Kita butuh argumentasi yang cukup kuat, agar mereka tidak menyepelekan bentuk penolakan kita ini. Yah.. seperti yang saya bilang, (1) alasan kita kenapa Aceh gak boleh ada di “Miss Indonesia,” karena tidak memakai jilbab kah? berati kita perlu garis bawahi di sini, boleh finalis Aceh ikut kegiatan “Miss Indonesia” dengan pengecualian; untuk finalis Aceh harus memakai jilbab, toh di ajang “Puteri Indonesia” juga ada anak aceh tahun ini yang masuk, dan anak ini memakai jilbab, apakah ini dibolehkan atau (2) alasan kita kenapa Aceh gak boleh ada di “Miss Indonesia,” karena kemarin yang mewakili di Miss Aceh bukan asli Aceh?
Maksud saya alasan kita harus kuat, gak mungkin kita “kekeh” alias ngotot dengan bentuk penolakan kita tapi tidak ada solusi atau jalan keluar yang bisa memberi perubahan yang cukup signifikan, agar kita tidak dianggap generasi yang reaktif dalam bersikap namun tanpa fondasi yang kuat.

Maaf, kalau ada perbedaan pendapat, saya bisa terima. Semoga perbedaan pendapat membuat kita berkesempatan berpikir dengan perspektif yang berbeda, toh tujuan kita sama, sama-sama mencintai Aceh dan ingin memberi perubahan yang berarti untuk Aceh. Teurimeng geunaseh.

THANKS GOD

Makasih ya Allah

Engkau hadirkan rasa yang begitu membuncah

Kemudian Engkau ajarkan aku untuk ikhlas

And then you take him back

 

Thanks God,

Many things I have to face

Many people I have to meet

And many feeling I have to handle alone

 

Thank God

You are so good for me

This feeling, hopefully I will never feel again

It is so pain

 

I always have to handle all of those alone,

I feel that feeling alone,

And I have to handle it alone also

 

He has gone

And never will come back

Even I have never had second change

Thanks God, this how you teach me to be strong

And this the Way I have to feel and

The way I have to run my life

Thanks God.. Thanks…

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑